News
Bea cukai telisik efek perang dagang ke penerimaan
Kontan | 10 July 2018

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai tengah menghitung efek perang dagang terhadap total penerimaan bea dan cukai. Sebab, perang dagang dapat mempengaruhi kinerja perdagangan internasional.

Kepala Sub Direktorat Penerimaan Ditjen Bea Cukai, Kemkeu Rudy Rahmadi mengatakan, akibat perang dagang membuat kemungkinan penerimaan bea masuk dapat turun maupun naik.

 “Ilustrasinya begini, kalau peningkatan tarif bea masuk itu masih bisa di-supportoleh pasar sehingga tidak terjadi penurunan volume impor dalam jangka pendek maka penerimaan bea masuk akan naik,” kata Rudy kepada Kontan.co.id, Selasa (10/7).

Sebaliknya, bila peningkatan tarif bea masuk tersebut menimbulkan kontraksi vokume impor karena barang impor jadi lebih mahal, yang terjadi adalah penerimaan bea masuk juga turun.

“Oleh karenanya, kami harus lihat lagi berapa banyak komoditas yang akan dinaikkan tarifnya, berapa level kenaikannya, dan bagaimana gambaran respon kinerja impornya pasca kebijakan tersebut,” jelasnya.

Namun demikian, Rudy mengatakan pihaknya mengamankan dulu capaian semester I-2018. Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemkeu), penerimaan bea dan cukai per Mei 2018 mencapai Rp 54,1 triliun atau tumbuh 16,7%. Pertumbuhan itu menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

“Pencapaian ini didukung oleh semua jenis penerimaan yang naik secara tahunan. Bea masuk tumbuh 12,98%, bea keluar naik 93,75%, dan cukai tumbuh 15,02%,” paparnya.

Nah, bila perang dagang berdampak buruk pada kinerja penerimaan kepabeanan, Rudy mengatakan bahwa share terbesar penerimaan DJBC sendiri adalah dari cukai yang merupakan penerimaan dalam negeri.

“Sehingga overall kinerja penerimaannya harus kami lihat lagi sembari terus dari waktu ke waktu memonitor ketat perkembangan situasi termasuk kebijakan yang akan dilakukan pemerintah dalam melakukan mitigasi,” ujar Rudy.