News
IA-CEPA: 7.000 Barang RI Bebas Bea Masuk ke Australia
CNNIndonesia | 07 September 2018

Jakarta, CNN Indonesia -- Sebanyak 7.000 pos tarif ekspor Indonesia dipastikan akan mendapat fasilitas bea masuk nol persen ke Australia setelah Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA CEPA) diteken November mendatang.

Direktur Perdagangan Bilateral Direktorat Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini menegaskan seluruh ekspor Indonesia ke Australia akan mendapat pembebasan bea masuk impor.

Dia menyebutkan beberapa contoh pos tarif yang dibebaskan bea masuk impornya. Yakni, produk tekstil, herbisida, dan pestisida yang semula dikenakan bea masuk impor 5 persen. Adapula produk lain seperti bahan kayu dan turunannya, kopi, cokelat, kertas, dan permesinan.

"Jadi kalau ekspor ini ekspor itu ke Australia, Indonesia tidak lagi dikenakan bea masuk," ujar Made di kantornya, Jumat (7/9).

Made mengatakan jumlah pos tarif ini lebih banyak ketimbang jumlah impor barang Australia yang tiba di Indonesia. Adapun, jumlah pos tarif asal Australia yang tidak dikenakan bea masuk di Indonesia mencapai 6.404 pos tarif.

Meski demikian, bukan berarti impor Australia yang masuk ke Indonesia adalah barang konsumsi. Ia mengatakan impor Australia sebagian besar adalah bahan baku yang proses pertambahan nilainya (value added) bisa dilakukan di Indonesia, seperti gandum yang bisa diolah menjadi tepung terigu.

Bahkan, Indonesia dan Australia sudah menjalin kerja sama di bidang perganduman (grain partnership), di mana Australia langsung memasok gandum, sorghum, dan barley ke industri makanan olahan Indonesia.

"Yang kami lihat untuk barang impor adalah hitung-hitungannya untuk value added. Karena kan tujuan kami dalam medium term dan long term meningkatkan daya saing," imbuh dia.

Dengan begitu, ada harapan Indonesia bisa memperbaiki neraca perdagangan dengan Australia yang saat ini tengah mengalami defisit.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor Indonesia ke Australia tercatat US$1,34 miliar dengan nilai impor US$2,71 miliar sepanjang semester I 2018. 

Artinya, Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan US$1,37 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini. Meski begitu, angka defisit ini membaik 18,11 persen ketimbang tahun kemarin.

Kendati demikian, pemerintah tak begitu ambil pusing dengan posisi neraca perdagangan Indonesia dengan Australia. "Kami tidak melihat ke arah trade balance, kami hanya melihat sektor mana saja yang bisa berkembang setelah kerja sama ini berlaku," papar dia.

Finalisasi IA CEPA menemui titik terang setelah Perdana Menteri Australia Scott Morrisson melawat Presiden Joko Widodo di Istana Bogor, Jumat (31/8). 

Jokowi menyampaikan IA CEPA perlu segera ditindaklanjuti lantaran saling menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan rencananya, perjanjian ini akan ditandatangani Indonesia dan Australia November mendatang.

"Australia merupakan salah satu mitra penitng indonesia di kawasan, australia juga merupakan salah satu mitra penting bagi Asia Tenggara," ujar Jokowi.